Media Digital Menggila


     


    Kita hidup di era yang hampir semua hal bergerak, berubah, berpindah secara cepat. Demi mengimbangi alur tersebut, kita harus bisa juga mengikuti, beradaptasi dengan situasi, kondisi dan juga realita yang sedang terjadi. Realita berubah semenjak media digital hadir memasuki wilayah Indonesia. Adanya media digital, informasi yang diterima oleh masyarakat sangatlah instan. Walaupun kredibilitas, maupun kebenaran informasi tersebut belum terbukti secara valid. Tapi, dengan kecepatan informasi yang tersebar keseluruh lapisan masyarakat membuat kita sadar. Bahwa, media digital ini menyeramkan.

    Segala hal bisa berada di media digital. Semua hal yang anda cari ada. Anda ingin mencari video tutorial masak? ada. Anda ingin mencari berita tentang kecelakaan? ada. Anda ingin mencari video orang banting botol tupperware? ada. Benar benar semua hal yang anda cari, ada di media digital. 

    Media digital adalah sebua media yang sangat bergantung sekali dengan jaringan internet. Yang mana, untuk menggunakan media digital ini, membutuhkan jaringan internet yang memadai untuk setiap penggunanya. Itulah kenapa, informasi yang didapatkan sangat cepat untuk menyebar keseluruh lapisan masyarakat. Karena, tak bisa dipungkiri, hampir semua kalangan memiliki handphone yang mengharuskan untuk memiliki jaringan atau kuota internet agar bisa digunakan secara maksimal. Bahkan, untuk di era sekarang, eranya anak muda, satu orang bisa memiliki lebih dari satu akun. Akun tersebut memiliki macam-macam kategori. Ada yang khusus sahabat, khusus pencitraan, atau khusus akun share video masak-masak. Dan itu menjadi sebuah hal yang lumrah sekali untuk setiap anak muda memiliki lebih dari 1 atau lebih dari 2 akun media sosial di sebuah platform media digital. 

    Lalu, apa yang membuat digital media ini menyeramkan sekaligus berbahaya?

    Ada sebuah kalimat yang sering kali ditemukan di berbagai platform sosial media, "Jejak digital tidak akan pernah hilang". Ini adalah sebuah kalimat yang bersifat bumerang untuk sebagian orang yang melakukan kesalahan di media sosial. Pada dasarnya, media sosia memang bersifat tidak aman untuk semua orang. Karena, tindakan, postingan ataupun kesalahan yang terekspos di media sosial tidak akan pernah hilang, walaupun sudah menggunakan fitur hapus postingan. 

    Kalau dipikir-pikir, dengan jejak digital yang tidak pernah hilang ini seharusnya orang lain meminimalisir dalam penggunaan sosial media. Mungkin itu terjadi atau dilakukan oleh sebagian orang karena bahayanya media sosial. Tapi, apakah penggunaan sosial media bertambah? Tentu saja bertambah. Dengan akses yang sangat mudah, angka yang didapatkan terus meningkat dari tahun ke tahun. 

    Untuk menghindari hal tersebut, apa yang bisa dilakukan? Tentu itu menjadi sebuah pertanyaan. Apa yang bisa kita lakukan untuk setidaknya tidak terjerumus dengan bahayanya media sosial. 

    Yang kita harus lakukan ada beberapa hal terkait untuk tidak kena dampak tersebut. Pertama, tentu saja berhati-hati dalam penggunaan media sosial. Perhatikan audience. Filter siapa yang boleh melihat postingan anda. Apakah dia orang yang judgemental? Apakah dia orang yang suka memberikan komentar negatif? Kalau membuat anda tidak nyaman, hapus saja. Kedua, kurangi waktu yang digunakan dalam bermain media sosial. Karena, semakin kecanduan anda dalam bermain media sosial, semakin ada dorongan anda untuk memposting segala hal yang kadang membuat anda tidak sadar kalau hal tersebut tidak seharusnya disebarluaskan ke media sosial. Ketiga, jadi orang baik. Jadi orang baik tentu memiliki definisi yang sangat luas sekali. Tapi, jadi orang baik di media sosial hanya memiliki 2 definisi. Sebar kebaikan, atau jangan memposting atau melakukan hal aneh di platform tersebut. Hal negatif tentu akan selalu ada, komentar negatif ketika anda menyebar kebaikan pasti akan anda. Tapi, setidaknya, ketika anda berbuat baik, hal negatif tersebut akan tertutup oleh hal baik yang disampaikan orang lain yang ditujukkan untuk anda. 

Comments