Saya memulai semua ini sejak saya duduk di bangku SMP. Mulainya ketika saya tau kegunaan dan kehebatan internet saat itu. Di tahun 2011-2013, cakupan yang bisa menerima internet mulai menyebar luas. Dari momentum itulah, saya mulai mengenal apa itu blog. Saat saya SMP, saya memiliki teman yang sudah menggunakan blog lebih dahulu. Blog seadanya, yang diisi oleh tulisan tentang dia menceritakan hidupnya. Semua berawal dari situ. Seiring berjalannya waktu, teman-teman semasa SMP sedikit demi sedikit bertambah yang menggunakan blogger dengan berbagai tujuan. Ada yang menggunakan blog sebagai medium untuk bercerita, ada yang menggunakan blog sebagai tempat membuat cerita dewasa.
Artikel pertama yang saya tulis di blog saat itu, tentang sebuah cerita imajinasi yang bergenre tentang romansa anak muda. Dikarenakan referensi saya lumayan banyak tentang romansa walaupun bisa dibilang umur saya terlalu dini untuk mengenali hal itu, tapi tetap saya tulis dengan kemampuan diksi yang seadanya. Lalu minat saya terhadap menulis semakin berkembang. Berjalannya waktu hingga saya SMA hingga kuliah. Keinginan untuk mengasah skill saya dalam membuat sebuah karya tulisan semakin besar. Dan yang tulisan yang dibuat tidak hanyalah cerita, melainkan ada puisi, pantun, ataupun essay. Karena di kuliah, saya mengambil fakultas Sastra Inggris. Maka, saya mulai memberanikan diri untuk membuat tulisan dalam Bahasa Inggris. Namun, semua diawali lagi dari 0. Karena perbedaan bahasa yang sangat signifikan, saya memulai membuat tulisan dengan diksi yang sangat terbatas. Kemampuan saya dalam menggunakan Bahasa Inggris tidak sefasih ketika saya menggunakan Bahasa Indonesia. Tapi, saya tetap memberanikan diri untuk membuat tulisan tersebut. Dengan bantuan tools penerjemahan seperti Google Translate ataupun Bing Translator.
Skill yang saya dapatkan tentang menulis, penambahan diksi, pemilihan kata itu semua saya pelajari secara otodidak dan sendiri. Saya tidak mengerti kenapa, ketika dulu saya sangat malu untuk meminta ajari oleh orang lain yang mungkin jauh lebih hebat dan lebih baik dari saya. Tapi sekarang tidak. Sekarang berubah, saya tidak malu untuk belajar hal baru yang saya tidak pernah tau atau tidak familiar. Tapi saya malu ketika tulisan saya dibaca oleh orang lain. Tulisan essay panjang seperti lantunan sedih, atau sajak, puisi yang saya buat. Dan ternyata banyak teman-teman saya juga malu ketika mempublikasikan karya tulisan mereka.
Waktu itu, tidak sengaja saya tau Raditya Dika di sebuah acara talkshow salah satu stasiun TV swasta di Indonesia. Dan ternyata, bang Radit adalah seorang blogger juga, sama seperti saya. Akhirnya, saya cari tau tulisan seperti apa yang dia tulis pada saat itu. Blog bang Radit dipenuhi dengan cerita-cerita lucu. Sejak saat itu lah, saya mulai menjadi pengikutnya bang Radit hingga sekarang. Dikarenakan ternyata, ketertarikan kita sama. Yaitu menulis.
Bagi saya, menulis bukanlah hanya sebuah aktifitas membuat karya. Tapi, menulis adalah sebuah cara ketika kita tidak punya tempat untuk lari dan bersandar. Karena menulis dijadikan sebagai pelarian. Menulis yang menggunakan diksi sedih, penuh rasa penyesalan, kebimbangan dan segala rasa tidak mengenakan itu adalah pelampiasan yang mereka gunakan ketika mereka tidak punya teman ataupun tempat untuk menumpahkan semuanya. Ketika dunia ini tidak mau mendengar, ada kertas yang rela dikotori oleh tinta pulpen.

Comments
Post a Comment