Menjadi Mandiri Adalah Sebuah Pilihan?





    Kata "me time" itu masih relevan nggak ya di Indonesia? Semakin era kesini, makin banyak sebutan baru untuk hal hal yang sebenarnya udah ada dari dulu. Ternyata bahasa juga perlu diupgrade, tidak hanya kualitas diri sebagai manusia.

    Kalo kita masuk ke era awal 2010 sampai 2017, kayaknya masih banyak banget atau bahkan pilihan utama untuk menggunakan kata me time. Sekarang, di 2021 banyak sekali kata alternatif untuk menggantikan istilah me time. Dari mulai kata independent, mandiri, sampai introvert. 
  • Gue ini introvert, kemana mana sendiri
  • Sebagai independent woman, gue gak perlu bergantung sama orang. gue bisa bebas kemana aja yg gue mau sendirian tanpa ribet
  • Udah 2021, harus mandiri dong. masa masih mengharapkan orang lain aja sih?
  • Gue udah terbiasa sih ke restoran atau coffeeshop sendiri gitu. Ada juga lo yang aneh, masa ke coffee shop aja minta temenin
4 kalimat di atas adalah, contoh kalimat orang orang yang sudah berhasil menerapkan hidup secara independent. Dengan skill mandiri yang mereka punya, mereka menyanjung diri mereka tinggi sekali, hingga lupa kalau tidak semua orang memiliki struktur hidup yang sama. 

   

     Sekarang mandiri merupakan sebuah pilihan. Dalam konteks, kita tidak lagi mengharapkan orang lain untuk melakukan sesuatu. Konsep mandiri tidaklah seperti ketika kamu umur 5 tahun, tiba tiba mau ngekost dengan alasan "mau belajar menjadi independent man/woman sejak dini." Tidak. Konsepnya tidak seperti itu. Konsep mandiri yang mereka pegang adalah, kalau ingin pergi ke mall, pergi sendiri. Tidak usah menunggu respon orang lain yang diajak. Karena akan memperibet keadaan kalau orang tersebut tiba tiba gak bisa, atau bilangnya mau ikut tapi pas hari H malah menghilang. Sama temen saja sudah dighosting. Pergi ke mall sendiri, nonton film di bioskop sendiri, makan di restoran sendiri. Itulah konsep independent yang mereka yakini. 
    
    Karena, untuk sebagian orang, ke mall sendiri, makan sendiri di restoran itu adalah suatu hal yang asing. Bagi mereka, ke mall ya asiknya berdua, bertiga atau lebih dari itu. Dan tentu saja bareng temen. Ke mall bareng temen atau sendiri ada point plus dan minusnya. Point plusnya ke mall bareng temen adalah, suasana jadi rame, seru. Point minusnya adalah, lo harus dan mau ribet untuk nungguin mereka. Nunggu mereka kasih jadwal mereka bisanya kapan, nunggu mereka siap siap just in case mereka dandan. Harus nunggu mereka izin ke orang tua mereka. Segala hal ini, yang sebenarnya bisa lo pangkas menjadi setipis mungkin kalau lo pergi ke mallnya sendiri. Nah, sekarang point plusnya kalo lo ke mall sendiri. Yang pertama, tentu nggak ribet. Lo mau pergi kapan aja sesuka lo bebas, mau naik kendaraan apa aja bebas. Kedua, gak perlu nunggu orang lain dandan. Ketiga, lo bisa seringkes mungkin dalam berpergian. Tidak perlu nunggu temen lo yang masih di dalem store. Makan nggak perlu pake debat dulu tim bubur diaduk atau nggak. Lagian kalo makannya sendiri, masa debatnya sama diri sendiri. Debat sama diri sendirinya bagian malem saat setelah pulang dari mall. Minusnya ya sepi. Lo merasa jadi mudah sekali bosan karena tidak ada temen mengobrol saat ke store satu dan lainnya.

    Aktifitas apapun, pergi kemanapun sebenernya bukan menjadi masalah mau melakukannya sendiri atau butuh ditemani orang lain. Terkecuali futsal 1 lapangan sendirian, itu lebih ke kasian sih. Nggak salah, tapi kasian aja. Yang salah adalah, memaksakan orang lain harus memiliki keyakinan yang sama dengan keyakinan yang lo yakini. Itu semua tergantung referensi masing masing aja. Ke mall sendiri atau berdua tidak masalah, yang penting jangan lupa vaksin kalau masuk mall. Nah, kalo lo, sudah vaksin belom?

    
 

Comments